Menjadi pelopor dalam pengembangan ilmu teknologi pendidikan di Indonesia. Sempat dituduh sebagai antek imperialis pada masa revolusi Indonesia di tahun 60-an. Menjadi ‘legenda hidup’ di usia Universitas Negeri Malang yang ke-60.

Tidak banyak yang menyadari pada gelaran puncak acara Lustrum ke-XII Universitas Negeri Malang di Graha Cakrawala, ada sosok ‘langka’ yang dimiliki Universitas Negeri Malang. Merujuk pada perjalanan sejarah Universitas Negeri Malang yang diawali dengan berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) pada tahun 1954, ternyata hadir seorang alumni PTPG angkatan pertama (1954) dalam puncak acara Lustrum UM ke-XII. Beliau adalah Prof.(Em) Dr. H. Yusufhadi Miarso, M.Sc.

Pada usianya yang tidak muda lagi, Pak Yusuf masih nampak bersemangat. Alumni PTPG jurusan Ekonomi ini masih aktif sebagai Guru Besar (Emeritus) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam bidang Teknologi Pendidikan. Beliau juga masih aktif memberikan kuliah di Program S3 Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, S2 Teknologi Pendidikan di Universitas Sriwijaya Palembang, dan S2 Teknologi Pembelajaran di Universitas Tirtayasa Serang, Banten. Pak Yusuf yang saat ini tinggal di Karawaci Tangerang pun selalu hadir pada event-event reuni ikatan alumni UM di Jakarta.

 

Perjalanan karir

Pak Yusufhadi Miarso dikenal sebagai ahli teknologi pem­belajar­an. Studinya di Amerika pada tahun 1961-1963 tentang Audiovisual Communication menjadi basis sehingga beliau mengembangkan bidang teknologi pendidikan di tanah air.

Diawali ketika lulus Baccalaureat Ilmu Ekonomi tahun 1958, Pak Yusuf menjalani karir sebagai Asisten Tk. II Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diperbantukan pada Departemen Pertahanan cq. Angkatan Laut RI, dengan tugas di Akademi Angkatan Laut RI di Surabaya (1958-1959). Setelah menjalani tugas belajar di Universitas Padjadjaran Bandung (1960-1961) dan Syracuse University, NY Amerika Serikat (1961-1963), Pak Yusuf mengajar di IKIP Malang (1963-1978).

Selain menjalani tugas fungsional mengajar, Pak Yusuf juga dipercaya untuk memegang jabatan lainnya, diantaranya adalah  Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (National Assessment of Education) sekaligus membantu tim Penyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama (REPELITA I), 1967-1968. Sebagai Ketua Lembaga Media Pendidikan (1968-1970), Deputi II Badan Pengembangan Pendidikan (1970-1973), Ketua Satuan Tugas Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (1973-1977).

Pada tahun 1978 hingga 1984 Pak Yusuf menjabat sebagai Kepala Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang PUSTEKKOM). Selanjutnya menjadi Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pengembangan Kurikulum. Pada tahun 1986 diangkat menjadi Direktur Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka.

Pada tahun 1990 Pak Yusuf kembali ke kampus IKIP Jakarta, dan menjadi Ketua Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan hingga pensiun sebagai PNS pada tahun 2003.

 

Pentingnya Media Pembelajaran

Indonesia mengalami masa kelam bidang politik pada pertengahan tahun 1960an. Pertentangan global antara blok barat dan blok timur turut berpengaruh dalam politik Indonesia. Pada masa-masa itu turut mempengaruhi perjalanan karir Pak Yusufhadi Miarso. Pendidikan di Amerika membuatnya sempat dituduh sebagai antek kapitalis/liberalis. ”Usaha saya meyakinkan perlunya media dalam pengajaran ‘dituduh’ sebagai usaha memasukkan paham kapitalis/liberalis yang tidak sesuai dengan Pancasila. Apalagi setelah saya diangkat sebagai Direktur Perpustakaan dan Kemudian Pembantu Rektor IV, sehingga termuat di koran Terompet Masyarakat bahwa “Antek imperialis Amerika menguasai IKIP Malang dengan menggunakan media,” kenang Pak Yusuf.

Hal itu tidak lepas dari upaya Pak Yusuf untuk meyakinkan pimpinan dan teman sejawat tentang perlunya media dalam membantu proses pengajaran (sekarang pembelajaran).

Dalam skala nasional, Pak Yusuf dan kawan-kawan mendapat tugas untuk mewujudkan program PELITA I dalam bidang pendidikan, khususnya “peningkatan mutu pendidikan dengan penggunaan radio dan televisi”. Untuk pelaksanaan tugas itu, Pak Yusuf mengusulkan agar semua kegiatan dapat dilakukan oleh tenaga Indonesia sendiri, meskipun UNESCO telah mengusulkan dijadikannya suatu “built-in project international”, dengan mendatangkan tenaga dan sarana dari mancanegara.

Usulan tersebut disetujui oleh Prof. Dr. Emil Salim (waktu itu sebagai Wakil Ketua BAPPENAS). Oleh karena itu kegiatan utama yang dilakukan adalah rekrutmen tenaga, pelatihan dan pendidikan. Pelatihan dan pendidikan ke luar negeri mendapat sponsor dari UNESCO, USAID, the Colombo Plan, JICA. Bantuan sarana pada awalnya diperoleh dari Pemerintah Jepang, berupa peralatan radio dan televisi, yang sebagian besar ditempatkan di ITS, sebagai laboratorium Jurusan Elektro. Bantuan terbesar diperoleh dengan hibah dan pinjaman dari Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID, berupa beasiswa Pascasarjana untuk 54 orang dosen, mendatangkan 4 orang konsultan dan 11 orang gurubesar tamu selama tiga tahun, ketersediaan pustaka (buku dan jurnal ilmiah) untuk Program Pascasarjana Teknologi Pendidikan di IKIP Jakarta, Bandung, dan Malang, serta kelengkapan sarana studio radio, televisi dan film di Pustekkom pusat dan Balai Tekkom di Semarang, Yogyakarta,dan Surabaya.

 

Prestasi

Sederat keberhasilan Pak Yusuf dalam dunia pendidikan di Indonesia dianataranya adalah; 1) Mengelola program pendidikan dan pelatihan tenaga dalam bidang Teknologi Pendidikan, termasuk pengiriman 42 orang program Master dan Diploma di luar negeri, mulai 1972-1978; 2) Menyelenggarakan program Penataran Guru melalui Radio pada tahun 1974; 3) Memprakarsai pembukaan Program Studi Teknologi Pendidikan jenjang S1 di IKIP Jakarta pada tahun 1976, dan jenjang S2 tahun 1978. Sekarang ini ada 22 program studi jenjang S1 Teknologi Pendidikan yang terakreditasi, 16 jenjang S2, dan 4 jenjang S3; 4) Memprakarsai model pembelajaran terbuka/jarak jauh dengan SMP Terbuka pada tahun 1978 di lima lokasi, yang sekarang berkembang di lebih 3000 lokasi; 5) Mendirikan dan membangun Pusat TKPK (sekarang PUSTEKKOM) pada tahun 1978; 6) Memberikan kontribusi sebagai konseptor berdirinya Universitas Terbuka mulai tahun 1983; 7) Mengem­bang­kan program Televisi Pendidikan dengan Serial Aku Cinta Indonesia (ACI) pada tahun 1984-1985; 8) Menulis tiga buku dan mem­prakarsai terbitnya Seri Pustaka Teknologi Pendidikan sebanyak 12 judul buku (mulai 1986-2004). Atas prestasi tersebut di atas, pak Yusuf memperoleh penghargaan Distinguished Service Award dari AECT (organisisasi international teknologi pendidikan yang berkedudukan di AS) pada tahun 1986, dan Kalyana Kretya Utama Teknologi Pendidikan yang diberikan oleh Presiden Soeharto, pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 10 Agustus 1997 di Jakarta.

 

Harapan kepada Generasi Penerus

Mengakhiri perbincangan dengan Pak Yusuf, beliau membandingkan generasi sekarang dengan generasi pada zamannya. Zaman awal karir Pak Yusuf, melaksanakan tugas banyak dilandasi oleh idealisme, yaitu bagaimana dapat mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi negara, masyarakat dan bangsa. Zaman sekarang, menurut beliau idealisme sudah sangat menipis. Dorongan untuk mengabdi seringkali –kalau tidak semuanya— dikaitkan dengan besar-kecilnya penghasilan/pendapatan yang diperoleh. Oleh karena itu beliau sangat setuju dengan gagasan Revolusi Mental.

Pak Yusuf memberikan nasehat untuk selalu meningkatkan profesionalitas. “Apapun tugas yang akan diemban, saya sarankan agar selama mengikuti pendidikan selalu ikut aktif dalam organisasi (ko dan ekstra kurikuler), meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa asing untuk dapat mengembangkan profesinalisme berkelanjutan (continuing professional development), dan jangan lupa komitmen yang sungguh-sungguh atas profesi yang disandangnya, serta berpegangan pada  kode etik profesinya. Alumnus UM, bagaimanapun perlu terus menyandang kewajiban belajar terus sepanjang hayat sebagai hasil dari “the Learning University,” kata pak Yusuf menutup perbincangan. [GMS]

Buletin IKA UM Edisi 7