DANA HIBAH ISLAMIC DEVELOPMENT BANK
Universitas Negeri Malang mengusung tema State University of Malang as the Center of Exellence in Learning Innovation.
Universitas Negeri Malang (UM) masuk dalam four in one perguruan tinggi yang memperoleh dana hibah dari Islamic Development Bank (IDB). Perguruan tinggi yang memperoleh dana IDB merupakan perguruan tinggi yang mempunyai orientasi pengembangan sebagai center of excellence. Empat perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Negeri Malang (pusat inovasi belajar), Universitas Negeri Jember (pusat bioteknologi), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten (pusat ketahanan pangan), dan Universitas Mulawarman (pusat tropical studies). Tema utama 4 in 1 ini adalah Development of 4 Universities as the Center of Excellence for Nation Competitiveness. Program kerja sama dengan IDB ini berjalan selama tiga tahun, yaitu 2017-2019.
Bermula dari proposal yang diajukan ke Bappenas, Kemenristek Dikti, dan Kementerian Keuangan pada bulan Maret-April 2015, UM dinyatakan lolos seleksi. Rektor UM pun membentuk tim pelaksana Project Implementation Unit (PIU) IDB yang terdiri dari tujuh orang, dengan Drs. Bambang Supriyanto, S.T., M.T. sebagai Direktur Eksekutif. Penandatanganan financial agreement oleh direktur IDB dan pihak Kementerian Keuangan dilakukan pada 19 Mei 2016, serta dihadiri pihak UM.
Program-program PIU-IDB UM
PIU-IDB UM telah menyusun program dibagi menjadi soft program dan hard program. Keduanya mengarah pada tujuan utama, yaitu UM menjadi pusat unggulan inovasi belajar (center of excellence in learning innovation) yang diproyeksikan tercapai pada akhir 2019. Fokus utama pada soft program. Hard program lebih bersifat mendukung berjalannya soft program.
Soft Program PIU-IDB UM
Soft program terdiri atas empat program antara lain; research grant, research consortia, curriculum development dan degree and non-degree training.
Research grant merupakan penelitian dengan judul yang saling terkait dan melibatkan seluruh warga UM. Sebanyak 66 judul penelitian akan didanai dan dikoordinasi oleh LP2M. Penelitian-penelitian yang dilakukan harus mengarah ke bidang inovasi belajar.
Research consortia dilakukan bersama UNEJ, UNMUL dan UNTIRTA dalam bentuk konsorsium dengan nama Indonesian Consortium for Learning Innovation Research (I-CLIR). Di program ini, ditunjuk beberapa dosen dari berbagai bidang keahlian. Ketua konsorsium untuk mengelola gagasan tersebut yaitu Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd. dari UM.
Curriculum development merupakan hasil dari research grant dan research consortia pada tahun pertama. UM akan memperoleh data tentang kebutuhan mahasiswa yang diwujudkan dalam kurikulum inovatif yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa masa kini. Kurikulum baru ini nanti akan disebut Life-based Learning Curriculum.
Kurikulum Life-based Learning ini memugkinkan mahasiswa untuk mengambil matakuliah lintas disiplin dan diakui secara Sistem Kredit Semester (SKS). Syaratnya matakuliah yang diambil mendukung disiplin ilmu yang sedang diambil. Pelaksanaan magang juga akan difasilitasi. Proses perkuliahan tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung ke lapangan. Degree & non-degree training. Degree training memberi kesempatan pada 20 dosen untuk kuliah S3 ke luar negeri. Sementara non-degree training memberi kesempatan pada total 109 orang yang terbagi menjadi tenaga kependidikan dalam negeri 27 orang, tenaga kependidikan luar negeri 17 orang, dosen dalam negeri 40 orang, dan dosen luar negeri 25 orang. Apa pun bidang ilmunya, disertasi yang diambil harus mendukung inovasi belajar.
Non-degree training disediakan untuk tenaga kependidikan dan dosen. Pelatihannya tidak sampai terlalu lama. Setelah kegiatan ini UM akan mempunyai laboratorium-laboratorium baru, maka perlu pelatihan untuk tenaga kependidikan ini. Dosen-dosen yang sudah S3 atau profesor juga perlu mengikuti sort course.
Hard Program PIU-IDB UM
Hard program terdiri dari pengadaan gedung, pengadaan alat, infrastruktur, buku dan jurnal. Dua gedung perkuliahan bersama masing-masing sembilan lantai akan menjadi aset baru milik UM yang direncanakan selesai tahun 2019. Desain yang dibuat oleh PT. Patroon Arsindo ini akan sejajar mengapit gedung PPG di Jalan Simpang Bogor. Di antara tiga gedung tersebut, rencananya akan dibangun amphitheater sebagai tempat kegiatan berkesenian mahasiswa di tengah-tengah ruang terbuka hijau. Lantai satu sampai tiga akan dikhususkan untuk laboratorium, sedangkan lainnya adalah ruang kelas, self access center, dan testing center.
Setelah proses pembangunan dan kerja sama dengan IDB selesai, tanggung jawab besar UM adalah perawatannya.
UM sebagai Pusat Inovasi Belajar
Sasaran utama learning innovation adalah terjadinya perubahan mindset pembelajaran teaching and training menjadi learning activity. Dari melatih mahasiswa terampil bekerja menjadi pengembangan kapabilitas. Serta mengubah pendekatan belajar berbasis job ke belajar berbasis kehidupan.
Pergantian paradigma ini amat mendasar. Sebab, secara psikologis pandangan kita terhadap peserta didik bergeser dari mahasiswa sebagai calon pekerja ke mahasiswa sebagai pribadi yang utuh.
Di tengah perubahan zaman yang tidak menentu, penuh paradoks, dan dinamika lapangan kerja, kapabilitas personal akan menentukan keberhasilan seseorang memasuki kehidupan. Lahirnya generasi digital, generasi Z yang kreatif, yang konon tidak gampang menerima peran tertentu memerlukan model layanan pendidikan yang berbeda.
Penelitian menunjukkan sebanyak 31% mahasiswa (manusia) mulai berbisnis dari dirinya (pencipta), 37% manusia menjadikan hobinya sebagai pekerjaan tetap, dan 42% manusia tidak gampang menerima peran tertentu yang diberikan orang lain.
Ide UM sebagai pusat inovasi belajar merupakan pengejawantahan The Learning University. Pengembangan kapabilitas melalui pendekatan Life-based Learning membutuhkan rangka kurikuler yang tidak monodisiplin. Oleh sebab itu, dalam konsep Life-based Learning muncul istilah transdisipliner dan interdisipliner. Sehingga interaksi ilmu akan terbangun oleh mahasiswa sendiri.
Sementara itu, dalam pelaksanaan program-program PIU-IDB UM ini, Bambang Supriyanto berharap seluruh jajaran UM dapat mendukung penuh program tersebut. “Kami tidak bisa berjalan tanpa dukungan dari semua pihak,” kata Bambang. WR IV UM pun menegaskan, dana yang akan digunakan merupakan hibah yang diberikan oleh IDB yang bekerja sama dengan Bappenas. “Dengan dana tersebut, tugas UM adalah menghasilkan lulusan yang terbaik dengan menjadi pusat inovasi belajar,” terang Wayan. [Komunikasi]
Sumber: Buletin IKA UM Edisi 11 Tahun 2016